Hilang satu Tumbuh seribu
- Jumat, 03 November 2017
- Dibaca 2686
_Oleh : Yudhi Kurnia, S.T_
Sepuluh tahun yang lalu saya masih sering berhadapan dengan bahasa pemograman berbasis *Desktop*, Bahasa Program yang masih hot waktu itu adalah Delphi. Meskipun, saat itu pemograman yang berbasis *Web* sudah mulai bergeliat, namun aplikasi Desktop masih banyak orang yang membutuhkan.
Dunia pemograman nampaknya perlahan sudah meninggalkan saya, atau sebaliknya saya lah yang telah meninggalkan dunia itu?. Jikapun saat ini saya coba memulai kembali untuk memasuki dunia pemograman, saya menjadi tertatih-tatih dan cukup kesulitan untuk mengejar ketertinggalan selama kurang lebih 10 tahun itu.
_Focus_ pemograman sudah berubah, dari yang saya ketahui mulai basis Desktop, lanjut ke Web Based, sekarang ada yang baru lagi berbasis android. Ya Allah, sudah jauh tertinggal saya dengan semua dunia itu. Dahulu saya mencoba untuk merancang sesuatu agar bisa dinikmati orang lain, saat ini saya sedang banyak menikmati buah karya orang lain.
Sepuluh tahun seakan waktu yang cepat, namun telah banyak menghilangkan banyak hal dalam dunia saya, terutama mengenai dunia komputer dan _programming_. Saat ini saya lebih menekuni dunia pendidikan, mencari formula bagaimana mendidik yang mampu menggerakan peserta didik, berusaha menjadi fasilitator dalam pembelajaran dan menjadi contoh dalam berkarya.
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat sedikit menekuni dunia animasi dan pemodelan 3D dengan bermodalkan program Opensource bernama *Blender*. Lagi-lagi hal itu harus di tanggalkan karena memerlukan _focus_ yang tinggi dalam menekuninya.
Di dunia pendidikan, saat ini saya terus memberikan dorongan dan motivasi agar semua peserta didik mampu berkarya dan menghasilkan sesuatu dari pembelajaran di kelas maupun diluar kelas. Saat ini, saya baru mampu sebatas mengenalkan semua materi-materi yang berhubungan dengan komputer, animasi dan programming. Saya berikan contoh, biar anak-anak semua yang meng-_explore_, semua aplikasi yang telah diajarkan.
Alhamdulillah, saya meyakini sebuah kata-kata bijak, “Elmu mah moal beurat mamawa”. Ya.. Ilmu itu tidak berat untuk dibawa. Saya kenali ilmu, saya pelajari – meski tidak sampai mendalam,namun pengetahuan awal itu yang saya catat dan tulis sebagai pembuka untuk ilmu berikutnya.
Professionalisme, keahlian, dapat diperoleh dengan ketekunan dan kerja-keras serta cerdas. Kita akan betul-betul ahli saat kita menekuni secara mendalam. Begitulah ilmu, di ulang dan di ulang maka akan menghasilkan pembiasaan berujung keahlian.
Saya telah merasa seperti kehilangan dunia itu, namun saya telah menemukan dunia baru. Dimana dunia ini akan cepat berkembang berdasarkan ilmu-ilmu pada dunia saya yang dulu. Saya tidak menyesal, saya sangat bersyukur, ini semua telah di gariskan dan saya memilihnya. Maka seolah, hilang satu tumbuh seribu, saya memaknai yang satu itu bukan hilang, namun menjadi pelecut untuk menemukan yang seribu.










.jpeg)
