Berburu permata di Jakarta (bagian 1)
  • Senin, 02 Oktober 2017
  • Dibaca 2392

Oleh : Yudhi Kurnia

Berburu permata di Jakarta menjadi judul tulisan saya kali ini. Berburu saya maksudnya dikarenakan saat tanggal 29-30 September 2017 saya harus betul-betul berlari dan berburu banyak sekali ilmu baru yang saya ibaratkan sebagai permata di kegiatan “Connecting classrooms; An introduction to core skills for teachers” yang di selenggarakan oleh British Council Indonesia, bertempat di Gedung Office 8 Jakarta.

Dua hari saya dipertemukan dengan orang-orang yang super sekali, baik dari penyelenggara, pemateri hingga para peserta yang merupakan guru-guru dari berbagai daerah di Indonesia. Guru-guru yang hadir dari Tulung Agung, Bali, Lampung, Surabaya, Tangerang, Serang dan beberapa daerah yang lainnya. Saya berkeyakinan kehadiran guru istimewa tersebut harus dilakukan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Pengorbanan moril maupun materil, tentuny bukan menjadi hitungan, disaat hasil yang akan di dapat dari seminar dua hari ini.

Dan benar saja, selama mengikuti kegiatan Core Skill ini tak henti-hentinya ilmu-ilmu baru terus mengalir deras. Saya hampir kewalahan untuk menampungnya, meski kegiatan saat ini baru sekedar pengenalan, namun bagi saya ini sudah sangat menjadi inti awal yang akan membuka inti-inti berikutnya. Dan katanya akan diadakan juga kegiatan Indepth di beberapa waktu yang akan datang. Diharapkan para peserta yang hadir kali ini dapat kembali bergabung guna mengikuti kegiatan pendalaman yang akan di laksanakan tentunya tidak akan lama lagi.

Ibu Linda Djayusman (Linda Djayusman) sebagai manager program yang super telah sukses meramu acara seminar dengan gemilang. Beliau tidak hentinya memberikan informasi melalui media email, bahkan katanya juga sempat memberikan konfirmasi melalui media sms dan juga telpon. Sungguh sebuah ke-profesionalan yang super bagi saya, sayangnya saat mau mengontak saya no telpon yang ada sudah tidak aktif.

Pak Barlin (Barlin Kesuma) dan Pak Toar (Toar Sumakul) adalah duo maut pemateri di kegiatan kali ini. sepintas saya mendapatkan informasi bahwa beliau berdua datang juga dari luar Jakarta. Materi yang diberikan dalam suasana serius namun santai. Satu persatu materi diberikan begitu landai dan mantap. Pembukaan yang begitu menggugah kami semua selaku guru tentang bagaimana mendidik serta membelajarkan siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang bermutu dan berkelas. 
Materi pertama yang begitu menggugah adalah di hadirkannya fakta dan data tentang krisis pembelajaran yang terjadi di dunia. Terjadi didunia bahwa pendidikan tidak hadir betul-betul sempurna mengajarkan siswa untuk belajar ilmu dasar atau ilmu inti, yang sebetulnya sangat diperlukan dalam kehidupan dimasa yang akan datang.

Saya secara pribadi begitu terhentak dengan hasil penelitian bahwa sebenarnya banyak sekali pembelajaran tidak hanya di Indonesia bahwa siswa belajar di kelas sebenarnya tidak betul-betul mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Lebih mudahnya para peserta didik belajar namun belum mampu untuk bisa mempersiapkan diri untuk kehidupan dimasa yang akan datang. Dalam istillah yang digunakan oleh British Council adalah pembelajaran yang hanya dalam ranah permukaan atau surface learning dan pembelajaran bermakna atau deep learning.

Pembelajaran tingkat permukaan atau surface learning hanya membelajarkan siswa dalam konteks mengingat/remember, memahami/understand dan mengaplikasikan/apply. Sedangkan pembelajaran yang bermakna mampu membuat siswa belajar untuk menganalisa/analyse, mengevaluasi/evaluate dan mencipta/create.

Selama dua hari kami di berikan materi bukan hanya teori namun juga praktek langsung tentang bagaimana menerapkan pembelajaran yang menerapkan kemampuan inti/core skills. Dalam pembelajaran core skill ini dibahas 6 elemen yang sangat dahsyat. Diantaranya adalah 
1. citizenship, 
2. collaboration and communicatioan, 
3. creative and imagination, 
4. critical thinking and problem solving, 
5. digital literacy
6. leadership an personal development.

Dari pelatihan yang diselenggarakan dengan kegiatan yang padat ini sungguh membuat saya dan rekan-rekan berlari-lari dimulai lari kecil hingga ke lari kencang. ( *bersambung* ),

Berita Terkait