Cerita Lain di Kegiatan Core Skills – British Council
  • Senin, 02 Oktober 2017
  • Dibaca 2549

Oleh : Yudhi Kurnia

 

Pemberangkatan saya dan rekan ke British Council Indonesia guna mengikuti kegiatan An Introduction to Core Skills for Teachers begitu istimewa. Istimewa karena agenda kegiatan ini begitu saya nantikan dan harapkan untuk diikuti. Berawal dari informasi yang pernah mengikuti kegiatan ini sebelumnya ditambah penguatan  yang disampaikan Kepala Sekolah  akan pentingya kegiatan tersebut yang akan di implementasikan dalam kegiatan pembelajara di SMP Muhammadiyah 8 Bandung. Sehingga secara bertahap seluruh guru dapat mengikuti kegiatan core skills ini.

 

Pemberangkatan subuh hari, sekitar pukul 03.00 pagi saya meluncur di boncengi tetangga menuju ke mobil travel yang terdapat di jalan Dipati Ukur. Sebuah jarak yang sangat jauh antara Sukamenak ke Dipati Ukur bukan sebuah halangan untuk mendulang emas, berburu permata di kota Jakarta. Si Kecil dan Bundanya terpaksa ditinggal untuk mengikuti kegiatan yang saya yakini akan mampu merubah mindset saya mengenai pendidikan di Abad 21.

 

Jarak Bandung – Jakarta saat ini bukan lagi menjadi jarak panjang, saat tol cipularang telah lama membentang. Hanya saja perjalanan agak tersendat di tengah kemacetan sesaat sebelum keluar jalan tol. Pukul 4.15 pagi, 15 menit terlambat dari jam 04.00 sebelum mobil melaju dengan kencang menysusuri jalan dipati ukur menuju pintu tol Pasteur. Adzan subuh sudah berkumandang, saya harus melaksanakan sholat didalam kendaraan. Setelah itu, mata yang sudah tidak kuat akhirnya tertutup sejenak tertidur, saya tidak dapat menikmati perjalanan, disamping itu keadaan diluar gelap.

 

Sesampai di pool travel di Jakarta sekitar SCBD , kami turun. Agak sedikit bingung saat harus menuju Kantor Office 8 Lantai 9 – Kantornya British Council Indonesia. Di era teknologi saat ini semua kemudahan itu sangat terasa. Bagaimana saya dapat mengetahui letak dan arah kemana berjalan menuju tempat yang akan dituju. Google MAP sangat ampuh menjadi pemandu dalam berlaku di tempat yang kita sendiri tidak tahu.

 

Dari tempat kami datang (pool travel)  menuju ke Office 8 tidaklah terlampau jauh. Apalagi saat di lihat menggunakan MAP gedung yang kami tuju itu tepat ada dibelakang tempat kami turun. Sayangnya tempat yang akan kami tuju terhalang oleh proyek pembangunan gedung baru. Akhirnya, kami putuskan untuk menggunakan taksi saja. Meski, dengan jarak agak sedikit memutar akhirnya kami pun sampai di depan gedung kantor 8 hanya dengan ongkos 10.000 rupiah.

 

Masuk ke gedung kantor 8 ini bukan perkara mudah ternyata. Saya baru tahu kalau masuk kantor di Jakarta seperti mau masuk bandara. Tas di masukin ke detector, dan diperiksa oleh pihak keamanan. Untuk masuk masih harus melewati palang yang di buka dengan kartu elektronik.

 

Untuk menuju lantai 9 kami harus menggunakan lift, sesampainya di lobby kantor kami disambut dengan senyum ramah sekuriti, dan mempersilakan untuk mengisi daftar tamu. Di dalam sudah nampak beberapa peserta seminar yang hadir. Kami masih malu-malu untuk berkenalan. Dengan agak sedikit lusuh, pasalnya baru turun dari perjalanan panjang kami pun bersiap untuk menghadapi hari yang begitu menggairahkan untuk dilewati.

 

Melalui sambutan hangat seorang ibu, saya menduga beliau adalah ibu Linda Djayusman, seorang ibu yang sering memberikan informasi mengenai kegiatan ini via email. Kantor British council ini begitu bersih, nampak kursi sofa yang nyaman berada di dalam, dan di sudut lain ada kursi beserta meja yang bergaya semi café. Seperti bagus untuk tempat kerja, kerja jadi tidak menjenuhkan.

 

Di kantor tersebut saya melihat dua ruang besar. satu ruangan nampaknya sudah siap dengan deretan kursi yang diatur sedemikian rupa seperti setting class. Dengan fasilitas screen yang besar dan screen yang kecil yang saling berseberangan letaknya. Di dalam ruangan tersebut nampak dua orang dengan kaos polo warna biru tua sedang berbincang, saya menduga merekalah pemateri yang akan menjadi pensupply ilmu di pelatihan ini.

 

Kegiatan pertama di hari pertama dimulai pukul 09.15, peserta belum semuanya hadir. Ada beberapa yang terlambat hadir, karena macet. Bahkan ada satu rekan yang jauh sekali datang ke Jakarta, ia datang dari Lampung, menggunakan pesawat, dan langsung hadir di tempat pelatihan.

 

Kegiatan Core Skill ini saya lihat begitu teratur, baik itu dari sisi jadwal bahkan dari pengaturan waktu untuk break, coffe break dan makan siang. Berhubung hari pertama adalah Jumat, maka bagi Muslim berkewajiban untuk melaksanakan kegiatan sholat jumat. Sholat jumat yang bagi saya begitu istimewa dan belum pernah mengalami sholat di area basement dan perparkiran gedung.

 

Ketepatan waktu dalam berkegiatan membuat saya kagum. Sulit untuk bisa disiplin terutama dalam hal waktu kegiatan, tepat waktu sepertinya menjadi budaya positif yang diterapkan di British Council Indonesia. Sore hari di hari pertama kami selesai tepat pukul 17.00, saya dan rekan yang sudah membooking penginapan segera meluncur ke tempat penginapan.

 

Ada hal unik yang terjadi saat menuju ke tempat penginapan. Di google map penginapan yang menjadi tujuan diperlihatkan cukup dengan kantor 8, kami coba berjalan untuk menuju ke tempat tersebut. Saat di ¼ perjalanan rekan saya cukup kelelahan, akhirnya di putuskan untuk naik taksi. Dalam perjalanan menggunakan taksi saya merasa agak cukup aneh jika sang sopir tidak tahu alamat yang kami tuju. Sampai pada akhirnya setelah berkeliling sedikit, akhirnya penginapan yang kami tuju ketemu juga, setelah saya turun taksi dan berjalan mencari penginapan berbekal Map.

 

Dipenginapan tersebut, kami membayar dengan tambahan deposit, pesanan dua kamar yang dipesan online dari Bandung. Akhirnya saya dapat berbaring di atas kasur di penginapan sejenak melepas penat, setelah seharian beraktifitas dan mendulang banyak ilmu yang diberikan pemateri dari British Council Indonesia, Pak Barlin dan Pak Toar.

 

Nyaris saat sudah berbaring saya malas untuk keluar, meski hanya sekedar untuk beli makan malam ditambah lagi hujan cukup deras melanda Jakarta malam itu. Untungnya rekan saya sangat inisiatif, akhirnya sebungkus nasi goreng tiba dikamar atas pertolongan dari teman rekan saya yang kebetulan tinggal di Jakarta. 

Berita Terkait