Ini ideku, mana idemu?
- Minggu, 24 September 2017
- Dibaca 2629
Oleh : Yudhi Kurnia
Seringkah kita mendengar sebuah ungkapan, "aku sebenernya banyak ide, tetapi..."? Ungkapan demikian menurut Faiz Mansyur, seorang penulis di dalam bukunya "Genius Menulis, penerang bathin para penulis" adalah bentuk kebodohan terselubung. Dalam dunia karya, bukan ide yang ditunggu masyarakat, melainkan karya nyata.
Mengetahui ungkapan tersebut saya merasa banget seperti di sentak-sentak. Saya merasa sering mendapatkan ide, namun hanya sedikit yang bisa terealisasi menjadi karya nyata. Selebihnya menguap, seperti embun pagi yang ditarik kembali oleh teriknya panasnya mentari.
Ide sering muncul tiba-tiba. Munculnya ide terkadang di barengi dengan kemunculan pesimisme dalam hati. Pesimisme itu terus bersuara dan berkata dalam angan dan Maya, bahwa tidak mungkin, tidak bisa, itu sulit, itu berat, kemaren yang punya ide sama juga gagal, pokoknya sudah lah mending diam saja.
Bagaimana dengan pengalaman pembaca? Jika jawabannya sama,.maka kita bergerak dari titik yang sama. Yaitu titik dimana banyak ide yang menguap tanpa makna dan cerita. Meski demikian, saya mempunyai prinsip secara pribadi yaitu, jika tidak bisa melakukan semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya. Hal itulah yang selalu menjadi penyemangat yang tumbuh dari dalam diri. Untuk memperoleh semangat yang menggebu-gebu selain dorongan dari dalam, saya selalu mencari pemicu dari luar. Pemicu tidak harus orang, penghuni alam ini, sering dan selalu menjadi penyemangat dan juga sumber inspirasi dan pengikat ide untuk dapat direalisasi.
Terutama sebagai seorang pendidik, ide-ide untuk memberikan pembelajaran yang menarik, unik dan mampu dipahami siswa secara cepat dan mampu diikat dalam ingatan secara lebih lama harus terus di cari dan tentunya dieksekusi.
Dunia komputer dan dunia prakarya merupakan dua dunia pembelajaran yang saat ini saya ampu. Jika dilihat sekilas, dua dunia itu tidak mungkin dan mustahil disatukan. Namun dengan hanya satu ide saja ternyata mampu mengawinkan dua "dunia" yang berlainan tersebut. Prakarya identik dengan mengahasilkan sebuah karya dalam bentuk fisik nyata. Seperti, kerajinan, rekayasa, budidaya dan pengolahan. "Dunia" komputer hadir, tidak hanya melengkapi namun Leader sekaligus. Bagaimana antara Komputer dan Prakarya dapat disatukan? Salah satunya adalah dengan memanfaatkan Media Hardware dan Software komputer untuk menjadi kawan dalam mendampingi Prakarya.
Saya telah mengambil contoh bagaimana keduanya dapat membelajarkan siswa secara lebih baik. Dilihat dari kreatifitas, kerjasama dan juga hasil Prakarya yang dibuat. Nah, ide-ide mengawinkan dua dunia yaitu komputer dan Prakarya ini telah mampu membelajarkan para siswa di sekolah.
Ide banyak yang mencari, padahal hampir kebanyakan itu muncul dari dalam diri. Sedikit orang yang mampu mengeksekusi satu saja dari ide-ide tersebut. Lebih sedikit lagi yang mampu mengeksekusi banyak ide yang muncul. So, jangan takut jika banyak ide, takutlah jika tidak ada satupun ide yang bisa Anda realisasikan. Hidup itu untuk ibadah dan berkarya, jangan mau jadi sekadar rumput yang tumbuh di padang padi. Mari bersama-sama bermimpi, berpikir ide dan merealisasikannya. (Admin)










.jpeg)
