Sampurasun Garut - Tasikmalaya, sambut kami disana
  • Senin, 21 Maret 2016
  • Dibaca 3087

Sampurasun Situ Cangkuang Garut, Kampung Naga Tasikmalaya dan Teejay Kota Tasikmalaya kami datang berkunjung. Beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 9 Maret 2016 sesuai dengan agenda kegiatan pembelajaran di Luar Sekolah, SMP Muhammadiyah 8 Bandung berangkat menuju Situ Cangkuang Garut, Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya dan Wahana bermain Air Teejay Kota Tasikmalaya. Ketiga tempat inilah yang menjadi destinasi para peserta didik SMP Muhammadiyah 8 Bandung kelas 7 dan 8.

Dua tempat yang begitu bersejarah yaitu situ cangkuang dan kampung naga, mempunyai kesan tersendiri dalam rangkaian kunjungan pembelajaran keluar kali ini. kami berangkat dengan menggunakan 5 bus. Kurang lebih 300-an siswa kelas 7 dan 8 mengikuti kegiatan tersebut. Diawali dengan pemberangkatan dari pelataran parkir puri dago antapani, yang semula dijadwalkan berangkat jam 06.00 namun sempat terlambat selama 30 menit. Hal tersebut tidak menurunkan antusiasme para peserta didik untuk berangkat bersama dengan penuh semangat.

Selama hampir 3 jam perjalanan akhirnya rombongan bisa sampai ke tujuan pertama yaitu situ cangkuang. Disitu cangkuang inilah para peserta didik bisa menggali ilmu dan menambah wawasan mengenai candi yang ada di jawa barat yaitu candi cangkuang. Di sekitar candi juga dihuni oleh penduduk kampung adat yang disebut dengan penduduk kampung pulo. Dan di candi cangkuang juga kami semua diberikan informasi mengenai cara membuat kertas nenek moyang kita dahulu. Kertas tersebut disebut dengan kertas daluang, dan dibuah dari kulit pohon saeh. Begitu unik pembuatan kertas tersebut. Sampai sebagian besar para peserta didik semangat untuk mencoba membuatnya sendiri.

Selepas dari candi cangkuang perjalanan dilanjutkan menuju ke kampung naga. Kami serombongan tiba di kampung naga sekitar jam 12.00. sebelum masuk ke kampung naga kami diberikan arahan oleh guide-nya mengenai beberapa hal terkait dengan informasi kampung naga, tentang bagaimana bersikap dan berkomunikasi. Namun sayangnya saat pengarahan berlangsung hujan dengan derasnya turun. Namun hal ini tidak menyurutkan kami untuk terus bergerak ke kampung naga meski diguyur hujan. Mengingat jumlah kami yang begitu banyak maka pembagian kelompokpun dilakukan. Ada sebagian yang dibawa oleh guide untuk berkeliling, ada lagi kelompok yang langsung menuju ke pendopo dan diterima oleh sesepuh kampung naga.

Dalam paparannya sesepuh kampung naga mengatakan bahwa wilayah kampung naga merupakan wilayah adat yang masih menjunjung nilai-nilai adat istiadat yang begitu tinggi, terbukti dengan masih terjaganya pola hidup, bangunan, serta hutan larangan yang masih dijaga keasriannya. Mengurai tentang asal-usul kampung naga ini sesepuh sempat mengatakan dalam bahasa sunda “ pareumeun obor” dalam bahasa kerennya lost information tentang asal-usul kampung naga, bahkan definisi kampung naga dengan nagawir juga sempat dibantahnya oleh beliau sebab katanya tidak ada informasi yang pasti mengenai asal-usul dari kampung naga tersebut.

Begitu banyak pengalaman dan nilai kehidupan yang kami dapatkan di kampung naga, kesahajaan penduduknya dan mau menjaga warisan budaya ini sungguh kami sangat menghargainya. Semoga kampung naga tetap lestari dengan menjaga nilai-nilai islami. Bersambung….